Popular Post

Popular Posts

Posted by : Iqbal Nafis Musyaffa Minggu, 13 Oktober 2019

Tradisi pembacaan yasin dan tahlil merupakan tradisi lama yang masih lestari dipegang oleh kalangan masyarakat Indonesia. Tradisi keaagamaan seperti ini masih lazim dilakukan terkhusus bagi warga di pedesaan. Umumnya acara seperti ini dilakukan seminggu sekali di setiap Hari Kamis malam (malam Jum’at) di rumah anggota pengajian itu sendiri dan dilakukan dengan cara bergilir. Hal seperti ini juga masih dipegang dan terus dilestarikan oleh warga Dusun Karang Tengah, Pulosari, Tulungagung.

Bagi mereka pelaksanaan tradisi ini ada makna lain selain dari sekedar mengaji dan berdzikir secara bersama-sama. Namun juga memiliki makna sebagai forum silaturahmi masyarakat, yang tadinya tidak kenal menjadi kenal, yang tadinya tidak akrab menjadi lebih akrab, kegotong-royongan, solidaritas sosial, tolong menolong, rasa simpati dan empati juga merupakan makna dari sisi lain tradisi yasinan dan tahlilan. Kegotong royongan ketika mengadakan acara, tolong menolong agar acaranya berjalan sesuai dengan yang diharapkan, rasa empati dan simpati ketika ada kerabatnya menyelenggarakan acara. Semua itu merupakan makna yang terkandung didalam tradisi yasinan dan tahlilan.

Yang unik dari pelaksanaan tradisi ini, jamaah sepakat untuk turut mengundang tetangga yang tidak tergabung dalam anggota. Bukan hanya bagi tetangga yang muslim, namun juga untuk tetangga yang beragama lain. Hal semacam inilah yang mampu untuk meningkatkan kerekatan antar tetangga tanpa memandang agama. “Iya, sudah jadi kebiasaan buat saya ngundang tetangga yang beragama lain saat punya acara seperti ini”, ucap Bu Suyati (72).

Mungkin beberapa orang akan menganggap cara yang dilakukan oleh warga setempat cukup tabu karena ini berada pada ranah keagamaan dan bisa saja menyinggung perasaan yang diundang. Namun opini tersebut tidak benar adanya karena bagi orang yang diundangpun tidak mempermasalahkannya, bahkan senang karena punya tetangga yang masih peduli terhadap mereka yang berkeyakinan lain. “Sangat senang sekali, soalnya saya dapat bertemu dan berkumpul dengan orang-orang lain dan ngobrol selepas mereka melakukan ibadahnya”, tutur Pak Widodo (55)

Ternyata hal semacam ini juga terjadi sebaliknya, ketika masyarakat kristiani merayakan hari rayanya, tetangga sekitar yang beragama muslim diundang untuk ikut serta dalam perayaannya, bukan untuk mengikuti ibadahnya, namun untuk sekedar berpesta bersama. Sikap toleransi dan kebersamaan seperti inilah yang sepatutnya terus dilestarikan serta diturunkan dari generasi ke generasi agar tidak luntur dan terus diserbarluaskan guna mewujudkan Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika.




Iqbal Nafis Musyaffa
19041184041

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © BERITA KITA KITA - ILMU KOMUNIKASI 2019 - Powered by Universitas Negeri Surabaya - Designed by Iqbal Nafis Musyaffa -