- Home >
- Jalan Ilegal Demi Mendapat SIM Instan : "Terimakasih Calo"
Posted by : Mohamad Rizal Ramadhana
Minggu, 22 September 2019
Jalan Ilegal Demi Mendapat SIM Instan : "Terimakasih Calo"
Memang pelayanan publik untuk membuat
SIM membutuhkan proses yang lumayan panjang dan melalui banyak tes yang jika
gagal dalam 1 tes akan mengulang kembali, dan pengulangan tes tidak butuh hanya
1 kali namun berkali-kali tanpa batas jika gagal lagi, itulah yang dirasakan Ragil
Prakoso saat mengurus SIM di kantor pusat Satpas Colombo, Surabaya, ia adalah
seorang pelajar dari SMK swasta di Surabaya, “gagal lagi, gagal lagi”tutur
Ragil Prakoso (18) sambil menghela nafas panjang.
Ragil sudah berkali-kali terkena
tilang karena tidak memiliki SIM, oleh karena itu ia sangat bersi keras untuk segera
membuat SIM, namun setelah mendapati bahwa ia selalu gagal dalam tes pembuatan SIM terutama saat tes berkendara,
Ragil mulai putus asa ia harus mencari cara agar segera mendapatkan SIM, maka
jalan Ilegal lah yang ia tempuh untuk mendapatkan SIM, yaitu dengan jalan Calo,
“ya memang harga calo dengan harga resmi dari Satpas Colombo sangat berbeda jauh
dan berkali – kali lipat, namun saya sudah bosan ketilang terus, jadi demi cepat
menghilangkan kebosanan saya, ya dengan cara instan namun mahal ini lah jalan
yang saya tempuh”sahut Ragil sambil tertawa.
Penertiban bebas Calo di wilayah
Surabaya sudah di laksanakan dan sudah di perketat, namun kenyataanya masyarakat
masih bisa menggunakan jasa Calo, contohnya kasus Ragil, ia rela mengeluarkan
1,6 juta untuk menggunakan jasa Calo dalam pengurusan SIM A dan C, “di perketat
gimana?, buktinya saya bisa menemukan calo yang berkeliaran, mungkin mereka
sudah bekerja sama dengan pihak di dalam Satpas, jadi ya lancar-lancar saja
tanpa kendala bahkan aman, terimakasih calo”tutur Ragil.
Di kasus seperti ini susah untuk
menyalahkan salah satu pihak karena semua pihak dari masyarakat pengguna calo maupun
pihak Satpas sendiri tidak ada penegesan,”yang berhak disalahkan itu gaada,
karena menurut saya orang Indonesia itu suka dengan Instan, dan yang memiliki
uang itu yang berkuasa” tutur Ragil. (zal)
Mohamad Rizal Ramadhana
(19041184009)