- Home >
- Beradaptasi Dengan Toleransi
Posted by : Mohamad Rizal Ramadhana
Minggu, 13 Oktober 2019
BERADAPTASI DENGAN TOLERANSI
Hidup di lingkungan yang menjadikan
beliau minoritas tidak serta membuatnya selalu hidup dalam tekanan dan hanya
diam dirumah saja, justru hidup di dalam lingkungan seperti itu dianggap sebuah
tantangan baginya, yang akhirnya membuat beliau dikenal banyak orang, beliau
dikenal karena kehidupanya yang humble dan humoris saat bercengkrama bersama
warga Perumahan Griya Taman Asri, di desa Tawangsari, Sidoarjo, beliau adalah seorang kristiani yang
sangat taat di mata warga, bersama keluarganya ia selalu rutin mengikuti acara keagamaanya
di setiap hari minggu, beliau sering di sapa pak Yitno yang dikenal ramah dan
sering bergaul dengan warga sekitar, keseharianya megantarkan ikan yang ia
kirim dengan mobil pick up kesayanganya, di umur yang ke-65 tahun beliau masih
sanggup menafkahi keluarganya.
Yang membuat warga sekitar kagum
akan beliau adalah sikap toleransinya yang tinggi, beliau sering hadir di
setiap acara keagamaan Islam seperti yasin/tahlil dan pengajian rutin, dan
setiap bulan ramadhan beliau sering membagikan takjil di masjid sekitar,”ya, saya
hanya mencoba sebaik mungkin menghargai kegiatan kerohanian Islam, karena saya
dan keluarga hidup dilingkungan yang mayoritas Islam, sekalian juga saya
belajar pengetahuan tentang agama lain”, tutur pak Yitno, di setiap acara tersebut
beliau selalu membantu mulai dari memasang tikar, lampu, sound sistem, sampai
rela jadi satpam untuk menjaga jalanya acara keagamaan Islam.
Beliau rela melakukan hal
tersebut tanpa paksaan, ataupun perintah dari orang lain, dengan sikapnya seperti
itu banyak warga yang menghormati beliau, sikap toleransi yang beliau miliki membuat
lingkungan disekitarnya tidak mengacuhkanya dan tidak memandang beliau minoritas,”toleransi
dan menghargai itu penting untuk kita dan orang lain disekitar kita, jangan
mentang – mentang mayoritas bisa berbuat sesukanya, dan sebaliknya, jangan
mentang – mentang minoritas, terus ga ikut berbaur dengan orang disekitar, cari
aman, berdiam dirumah saja, justru hal kayak gitu membuat persepsi orang lain
ke kita jadi negatif”, tutup pak Yitno.