- Home >
- Cerita Anak Punk yang Menemukan Kehidupan Lebih Baik
Posted by : Wahyu Nur Syarafina
Senin, 25 November 2019
"Ketika itu saya memilih jalanan
sebagai sarana mencari nilai kehidupan."
Memasuki usia dewasa dimana pilihan hidup menjadi
hal yang sangat menentukan karir seseorang kedepannya. Hal itu pula yang dirasakan
oleh A, yang kala itu sempat mengikuti komunitas jalanan atau seringkali
dikenal dengan Punk.
Menurutnya, Punk adalah konsekuensi dari
hidup yang dipilihnya, meskipun atas ajakan teman. "Saya dulu diajakin
temen untuk gabung di komunitas ini, maklum lingkungan saya negatif mbak dulu, "
ujarnya singkat.
A menambahkan bahwa jalanan adalah sekolah
terbaik dalam fase pencarian jati diri. "Karna saya sendiri dapat banyak
pelajaran hidup disana, banyak banget orang dan beragam juga sifatnya, dapet
ilmu banyak lah," ujarnya.
Dikutip dari laman kompasiana.com yang
menyebutkan bahwa Punk merupakan kepanjangan dari Public United Nothing
Kingdom dimana kepentingan sebenarnya adalah melawan ketidakadilan.
Namun citra punk yang negatif terlanjur melekat
kuat di masyarakat luas, seperti nakal, pemicu kerusuhan dan tampilan dari kumuhnya
kehidupan jalanan. Tak hanya itu, kebanyakan broken home yang menjadi
anggota punk menambah julukan punk sebagai tempat pelampiasan. Tapi tak
selamanya benar, A sebagai ex Punk yang kini menjalani kehidupan yang layak,
mengatakan bahwa kebersamaan dalam punk sangat besar antar anggotanya. “Biasanya
gini mbak, nasi satu, dibagi semua anggota, salah satu ngga makan, semua juga
ngga makan! Bahkan sampai nasi basi, minuman di tempat sampah, sekiranya layak,
ya di makan, buat konsumsi, " jelasnya.
Selain itu, punk juga ikut berkontribusi
membantu masyarakat, misalnya dalam bantuan bencana. "Kami pas bencana Banten
itu, ngamen di simpang jalan dan lampu merah, dan hasilnya itu dikumpulkan, nah
nanti disalurkan kesana," ujarnya. Selain bantuan bencana, komunitas punk
juga berbagi pada event tertentu. "Pada bulan Ramadhan, menuju waktu
berbuka, kami berbagi takjil di lampu merah, terutama bagi orang yang kurang
dan pengendara motor," terusnya.
Terlepas dari kebaikan, ciri khas punk
tetap ada meskipun telah lepas dari komunitas tersebut, A menyebutkan bahwa ia
tetap memiliki tatto. "Tatto itu lambang kebebasan mbak, dan saya
mempercayainya. Bahkan saya punya ini, jauh sebelum ikut komunitas punk,
" jelasnya.
Peran orang tua diakui sangat penting bagi
A, karena berpengaruh terhadap perilaku dan sikap yang diambil ketika masa pubertas
atau pencarian jati diri. "Terkadang tiap perilaku orang tua bisa mengubah cara berfikir anak, baik atau
tidaknya tergantung peran tiap orang tua sendiri," ujarnya.
Menjadi ex punk yang merasakan berbagai
kehidupan jalanan, membuat A menghimbau kepada beberapa orang agar tidak
menjadi sepertinya. "Setiap orang punya cara dan pilihannya sendiri Life
is choice, hidup itu adalah pilihan. Terserah orang mau punya gaya hidup
model seperti apa. Yang penting engga merugikan pihak sekitar," terangnya.
Terakhir A menjelaskan bahwa ada titik
jenuh yang membuat dirinya lepas dari komunitas tersebut. "Semakin kesini
semakin tak fikir, nggak selamanya bahwa
kehidupan itu terus dijalanan. Saya merasa harus berubah, butuh kerja, pengen punya kehidupan normal, " simpulnya.
Lailatul Dwi
Nur Apriliana 19041184003
Stella
Salsabilla 19041184008
Muhammad
Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis
Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur
Syarafina 19041184060
Marsa Faiza
Hardiyanti 19041184073