Popular Post

Popular Posts

Recent post


            Peran keluarga dijaman sekarang sangat mempengaruhi perkembangan diri seorang anak, dimulai dari balita hingga remaja. Kita bisa mengatakannya “kasih sayang”, yang mungkin kalau kita nilai itu bisa di dapatkan dimana saja berbeda dengan anak kelahiran Kota Gersik ini. Dengan mempunyai sodara kembar yang sudah di pisah tinggalnya karena sodara kembarnya mengidap peyakit, yang ditakutkan orang tuanya adalah memisahkan mereka berdua yang di harap bahwa sang kakak kembarnya tidak akan mengidap penyakit yang sama. Tetapi berbeda dengan hasil yang dapatkan keluarganya sekarang dan di pikir juga tidak sejalan dengan apa di terapkan pada keluarga ini.
            Mempunyai adek yang kembar dan mengidap penyakit yang dibilang cukup serius membuat pihak keluarga berfikir panjang untuk memisahkan kedua anak kembar tersebut dengan tujuan untuk menghindari kepada kakak kembar mengidap penyakit yang sama. Sebut saja Dina, anak kembar yang menjadi kakak dari adek kembar yang memiliki penyakit tersebut, terbiasa tinggal di nenek dari kecil membuat Dina memiliki rasa iri terhadap adek kembarannya tersebut “Awalnya aku biasa aja sama keputusan orang tua, karena kan waktu itu aku masih kecil dan pasti belum bisa ngomong dong pastinya. Tapi makin dewasa disini aku jadi sering melihat perlakuan dari orang tua sendiri itu beda banget ke aku sama adekku ini. Yang dimulai aku gak dapet perhatian, yang aku sampai sekarang masih tinggal di nenek. Aku gak masalah untuk tinggal di nenek, kan sekaligus juga aku rawat neneknya. Tapi ya jangan memperlakukan aku beda seakan aku sendiri itu bukan dari anak mereka. Kalau untuk fasilitas sih aku dapet terus pada saat sekolah itu”. Ujar Dina sang kakak dari si kembar.
            Perhatian dari keluarga sangatlah penting, yang di awalnya kita bisa mendapatkan dari yang terdektat tetapi jika tidak di dapatkan kita akan mencarinya diluar begitu juga dengan sebaliknya.“Bedanya aku di smp itu anaknya baik hehe aku dulu sekolah di MTS jadi terbilang hidup ku teratur, sampai aku di sma aku masuk ke smk yang dimana aku mempunyai temen yang yang terbilang jauh diluar pergaulan aku yang dari kata-kata baik. Dan jadi aku tertarik sama pertemanan mereka jadinya aku gabung, dan ya aku mulai meresa perhatian mereka sangat lebih ke aku dari pada yang dikasih orang tuaku. Jadi ya aku dibilang nakal dari situ, yang sekarang aku nggak melanjutkan pendidikanku, malah memilih untuk kerja dan aku masih pada fase di pergaulan yang sama. Aku rokok iya, minum iya, bahkan nyentuh barang terlarang aku juga pernah. Ada sempat berfikiran untuk berubah karena masih ada orang tua jugakan. Tapi ya masih nyaman juga di jalan sekarang. Yang bisa di bilang aku juga sering bohong ke orang tuaku yang bilang tidur di nenek padahal aku keluar dan begitu sebaliknya.” Paparan Dina.

Lailatul Dwi Nur Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla 19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur Syarafina 19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti 19041184073

Perhatian Tidak Ku Dapatkan Dari Mereka


Remaja selalu dikaitkan dengan pencarian jati diri. Banyak fenomena remaja yang terpapar pergaulan bebas dari lingkungannya. Pola asuh yang salah dari kedua orangtua, serta peran teman sekitar sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang remaja. Tidak terpungkiri, remaja yang salah pergaulan sering kita temui di era saat ini. Masyarakatnya banyak menyebutnya dengan istilah anak punk. Hal ini tampak dari seorang remaja kelahiran Gresik bernama Dina (bukan nama sebenarnya).
Sembari menghisap rokoknya, Dina bercerita tentang pengalaman hidupnya. Berawal sejak empat tahun yang lalu, tepatnya ketika ia sedang duduk dibangku kelas 1 SMK. Usianya saat itu sudah cukup dewasa untuk mengerti bahwa kedua orangtuanya tidak berlaku adil kepadanya. “Dulu waktu kecil, nggak kerasa, sekarang baru. Adik kembarku tinggal sama mereka (orangtua) sedangkan aku sama mbahku,” ujarnya.
Tidak hanya itu saja, menurut pengakuannya, ia seringkali mendapatkan kekerasan dari kedua orangtuanya. Bentuknya adalah teriakan hingga pukulan. Hal tersebut menjadi satu alasan Dina untuk terjun ke dunia jalanan, yaitu yang sering disebut masyarakat anak punk. Faktor lain yang ia rasakan adalah terpapar dari mantan kekasihnya yang merupakan seorang bandar narkoba.
Sejak lulus SMK, Dina memang tidak tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sehingga, ia memutuskan untuk mencari pekerjaan yang layak untuk menghidupi dirinya. Selama beberapa bulan, ia mendapatkan banyak tawaran pekerjaan yang penuh resiko. Beberapa adalah tawaran menemani lelaki hidung belang dengan bayaran tujuh ratus ribu rupiah, menyiapkan minum-minuman keras dengan bayaran kurang lebih dua ratus lima puluh ribu, dan lain sebagainya.
Akan tetapi, semua tawaran itu ia tolak. Dina memiliki prinsip bahwa ia masih memiliki harga diri yang harus ia jaga. Sehingga, ia banyak memilah mana pekerjaan yang layak atau tidak. Saat ini, ia bekerja di salah satu warung kopi yang dikelola oleh kantor besar di dekat Alun-Alun Gresik. Selama sebulan terakhir, ia bekerja di tempat tersebut. Namun, hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan kebiasannya untuk berkumpul dengan anak punk. “Sekarang ya masih nongkrong mbak. kadang ya cuma ngerokok, atau minum. Sebatas itu,” tuturnya.
Stigma masyarkat terhadap anak punk memang bermacam-macam. Mayoritas memiliki stigma negatif terhadap kumpulan anak punk ini. Akan tetapi, bagi Dina hal tersebut tidak penting. Ia selalu bersikap acuh tak acuh terhadap padangan orang lain. Selain itu, Dina juga memaparkan banyak hal yang tidak orang lain tahu mengenai punk itu sendiri. “Kami disini belajar solidaritas, mbak. Kalau nggak ada uang, ya cari bareng, ngamen contohnya. Pokoknya kita itu prinsipnya nggak mau minta uang ke orangtua. Kita memang nakal, tapi pakai uang sendiri, dan nggak ngerugiin orang lain kok,” jelasnya.
Kehidupan Dina saat ini memanglah sangat bebas. Ia yang benar benar lepas dari pengawasan orangtua, merasa jauh lebih aman bersama kumpulan anak punk. Bergabungnya dengan kumpulan anak punk membuatnya jauh merasa dilindungi. Padahal hal tersebut harusnya ia dapatkan dari kedua orangtua. Beberapa kali ia merasa frustasi dengan kehidupannya, lagi-lagi ia tidak mendapatkan perlindungan dari kedua orangtua. Sesekali ia bahkan melakukan self-injury dengan melukai pergelangan tangannya dengan jarum atau pisau. “Saya puas mbak kalau sudah begitu (self-injury). Walaupun puasnya sementara, karena memang sudah kadung marah sama orangtua juga,” seraya menunjukkan bekas luka ditangannya.
Tidak banyak yang ingin ia bagi. Dina-pun berujar bahwa kehidupan yang ia jalani merupakan pilihan baginya. Saat ini ia sudah terjun terlalu dalam, sehingga susah baginya untuk lepas. Titik berat yang ia tekankan pada dirinya saat ini adalah, “Saya berdiri sendiri mbak, tidak mau minta-minta ke orangtua lagi. Biar orang lain mau berkata apa, saya ya saya, bukan mereka,” tutupnya dalam wawancara.



Lailatul Dwi Nur Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla 19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur Syarafina 19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti 19041184073


Ini Saya Bukan Mereka


Peran keluarga dalam proses pertumbuhan dan pembentukan karakter setiap anak adalah sesuatu yang dirasa sangat penting untuk diperhatikan.

Dia adalah Dini (bukan nama sebenarnya), seorang anak remaja perempuan berusia 18 tahun yang memiliki saudara kembar yang dididik dengan orang dan cara yang berbeda.

Perempuan yang saat ini duduk di bangku kuliah salah satu universitas negeri di Jawa Timur ini sadar betul bahwa dirinya dan saudara kembarnya memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda.

Saudara kembarnya, Dina, sedari bayi diasuh oleh neneknya. “Bayi kembar kan kalau salah satu sakit, satunya jadi ikutan sakit,” ucap Dini, menjelaskan alasan mengapa mereka diasuh oleh orang yang berbeda.

Dina memang diberikan kebebasan oleh neneknya untuk bergaul dan mengenal dunia luar yang luas. Karena itu kini kehidupan Dina benar – benar lepas dari pengawasan. Ditambah lagi saat ini Dina sudah memiliki pekerjaan dan mampu untuk menghasilkan uang sendiri, sehingga ia tak perlu meminta ke orang tuanya lagi. “Sekarang makin berani karena Dina udah kerja, jadi ngomong ke orang tua kalo dia sekarang bukan tanggung jawab mereka (orang tuanya),” ungkap Dini.

Selama ini memang terjadi perselisihan antara Dina dan orang tuanya. Hal itu dipicu karena Dina merasa bahwa dirinya diperlakukan tidak adil oleh orang tuanya dan selalu dibanding – bandingkan. Memang, Dini adalah anak yang rajin, sholeh, serta memiliki segudang prestasi. Sebenarnya orang tua mereka pun tidak membatasi apa yang ingin menjadi jalan hidup anak – anaknya. “Mau kuliah monggo, mau kerja juga boleh,” ucap Dini mengikuti kata – kata orang tuanya.

Dini mengaku, dengan keadaan saudara kembarnya yang menjadi seorang anak punk, tidak menjadikannya merasa ingin ikut serta terjun ke dunia tersebut. “tidak terlalu berpengaruh, ambil aja sisi positifnya,” imbuhnya.

Dini juga menjelaskan bahwasanya orang tua mereka sudah capek untuk meberi tahu bahkan untuk menegur Dina karena dirasa percuma, sudah dibilangin berkali – kali namun tetap saja tidak pernah dianggap. Meski Dina tidak mendengarkan orang tuanya, namun Dini lah yang berperan sebagai tempat Dina berlabuh mengungkapkan curahan isi hatinya. “Lebih dengerin aku dari pada ayah ibu. Kalau ada apa – apa juga ceritanya ke aku. Saling bantu aja tiap kali ada masalah,” akunya.

Dini sendiri bercerita bahwa dulunya dia juga pernah  nakal saat masih berada di sekolah dasar, namun karna kenakalannya itu pernah orang tuanya diapanggil ke sekolah untuk minta maaf. Dari situlah Dini tersadar atas perbuatan yang selama ini ia lakukan itu rupanya memalukan. Menurutnya, bagaimana bisa tindakan yang ia perbuat, namun orang tua yang menanggung. “Aku yang salah, orang tua yang minta maaf. Malu aku sejak saat itu,” jelasnya.

Sebetulnya Dina saat ini sudah mulai mengurangi aktivitasnya dalam hal – hal yang berbau ‘kebebasan’. Namun faktor lingkungan tetap saja membuatnya enggan untuk berubah, ditambah rasa tidak enak terhadap teman – temannya yang mengajaknya main. “Anak punk kan terkenal solid, susah kadang buat menolak ajakan,” ucap Dini.

Menurut Dini, peran keluarga dalam permasalahan semacam ini sebetulnya sangat diperlukan agar tidak sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebenarnya anak nakal atau punk pada awalnya pasti punya suatu permasalahan. Baik itu dari dalam dirinya sendiri, lingkungan, teman, bahkan keluarganya. Mereka hanya salah memilih jalan untuk mengatasinya. Takut untuk menghadapi permasalahan tersebut secara rasional. Mereka lebih memilih untuk mengutamakan emosinya terlebih dahulu. Mereka juga terkenal akan ikatan pertemanannya yang solid. Bahkan mereka juga memperlakukan orang – orang di sekitarnya dengan sopan. “Orang yang tampangnya sangar dan bertato belum tentu dia itu jahat. Mereka lebih ngajeni. Mereka tidak pernah serta merta menghasut orang untuk ikut masuk ke dalam dunianya.” Tambah Dini.









Lailatul Dwi Nur Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla 19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur Syarafina 19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti 19041184073

Saudara Kembar Beda Kepribadian



Komunitas anak punk dari dulu hingga sekarang masih mendapatkan pandangan yang negatif di masyarakat mulai dari cara mereka berpenampilan, rambut mowhack, pakaian hitam, pemalas yang sukanya hura-hura, tato dan perilaku mereka yang sering berkeliaran di pinggir jalan juga cenderung melakukan perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang ada sehingga menimbulkan stigma-stigma negatif yang melekat dalam diri anak punk di masyarakat.

Stigma-stigma negatif tersebut masih melekat di komunitas anak punk dan terkadang membuat kekhawatiran di mata masyarakat pada umumnya seperti yang dialami Anik (40) yang mengaku trauma dengan komunitas anak punk. “Dulu waktu saya masih kerja, sewaktu pulang kerja malam-malam lagi jalan nyari bemo ada anak-anak punk lagi mabuk terus tiba-tiba digodain sambil ada satu anak yang narik kalung saya. Tapi, alhamdulillah saya berhasil lari kabur dari mereka. Sejak itu sih saya jadi takut kalau ketemu anak-anak punk kek gitu bener-bener sampai sekarang masih trauma.” Ceritanya.

Tidak hanya di kalangan masyarakat, para orangtua pun mengaku khawatir terhadap anaknya dengan adanya komunitas anak-anak punk terutama mereka yang memiliki anak perempuan. “Karena trauma tadi, terus anak saya perempuan semua waduh malah bener-bener takut sih apalagi kalau anak saya pulang malam udah pasti khawatir gak tenang takut nanti ketemu anak-anak kek gitu dijahatin atau nanti digoda-godain.” Imbuh Anik (40).

Penampilan yang menimbulkan kesan seram cenderung membuat banyak orang takut untuk bertemu mereka. Terutama anak-anak perempuan yang terkadang juga menjadi korban cat calling para anak-anak punk. “Di rumahku itu deket sama tempat kumpulnya anak-anak punk gitu dan aku pernah digoda-goda gitu dipanggil-panggil sambil ketawa-ketawa atau gak disiul-siul jadinya kalau lewat situ aku mesti risih jadi gak pernah lewat situ lagi. Akhirnya kalau mau keluar rumah beli-beli apa selalu muter jalan lain biar gak ketemu sama mereka.” Cerita Mita (14)

Namun tidak semua orang merasa terganggu atau takut dengan keberadaan anak-anak komunitas punk. Semua tergantung bagaimana kita memandangnya. “Aku biasa aja sih gak terlalu terganggu atau yang gimana-gimana sama anak punk, karena aku juga punya temen yang ikut komunitas anak punk gitu dan aku pernah ikut kumpul temenku yang anak punk itu tapi mereka juga gak pernah ngelakuin kegiatan-kegiatan yang negatif yang mungkin dipikirkan orang-orang atau ganggu sih. Mereka bener-bener sekedar kumpul-kumpul aja.” Ujar Nadin (16)

Dan masih banyak juga anak-anak komunitas punk yang masih berperilaku baik melawan stigma-stigma negatif yang ada di masyarakat. “Malah kemaren pas puasa temenku sama komunitas anak punk-nya itu bagi-bagi takjil di jalan sama ngadain buka puasa bersama anak-anak panti asuhan.” Tambah Nadin (16)











Lailatul Dwi Nur Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla 19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur Syarafina 19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti 19041184073


Keberadaan Anak-Anak Punk di Masyarakat

"Ketika itu saya memilih jalanan sebagai sarana mencari nilai kehidupan."
Memasuki usia dewasa dimana pilihan hidup menjadi hal yang sangat menentukan karir seseorang kedepannya. Hal itu pula yang dirasakan oleh A, yang kala itu sempat mengikuti komunitas jalanan atau seringkali dikenal dengan Punk.

Menurutnya, Punk adalah konsekuensi dari hidup yang dipilihnya, meskipun atas ajakan teman. "Saya dulu diajakin temen untuk gabung di komunitas ini, maklum lingkungan saya negatif mbak dulu, " ujarnya singkat.

A menambahkan bahwa jalanan adalah sekolah terbaik dalam fase pencarian jati diri. "Karna saya sendiri dapat banyak pelajaran hidup disana, banyak banget orang dan beragam juga sifatnya, dapet ilmu banyak lah," ujarnya.

Dikutip dari laman kompasiana.com yang menyebutkan bahwa Punk merupakan kepanjangan dari Public United Nothing Kingdom dimana kepentingan sebenarnya adalah melawan ketidakadilan.

Namun citra punk yang negatif terlanjur melekat kuat di masyarakat luas, seperti nakal, pemicu kerusuhan dan tampilan dari kumuhnya kehidupan jalanan. Tak hanya itu, kebanyakan broken home yang menjadi anggota punk menambah julukan punk sebagai tempat pelampiasan. Tapi tak selamanya benar, A sebagai ex Punk yang kini menjalani kehidupan yang layak, mengatakan bahwa kebersamaan dalam punk sangat besar antar anggotanya. “Biasanya gini mbak, nasi satu, dibagi semua anggota, salah satu ngga makan, semua juga ngga makan! Bahkan sampai nasi basi, minuman di tempat sampah, sekiranya layak, ya di makan, buat konsumsi, " jelasnya.

Selain itu, punk juga ikut berkontribusi membantu masyarakat, misalnya dalam bantuan bencana. "Kami pas bencana Banten itu, ngamen di simpang jalan dan lampu merah, dan hasilnya itu dikumpulkan, nah nanti disalurkan kesana," ujarnya. Selain bantuan bencana, komunitas punk juga berbagi pada event tertentu. "Pada bulan Ramadhan, menuju waktu berbuka, kami berbagi takjil di lampu merah, terutama bagi orang yang kurang dan pengendara motor," terusnya.

Terlepas dari kebaikan, ciri khas punk tetap ada meskipun telah lepas dari komunitas tersebut, A menyebutkan bahwa ia tetap memiliki tatto. "Tatto itu lambang kebebasan mbak, dan saya mempercayainya. Bahkan saya punya ini, jauh sebelum ikut komunitas punk, " jelasnya.

Peran orang tua diakui sangat penting bagi A, karena berpengaruh terhadap perilaku dan sikap yang diambil ketika masa pubertas atau pencarian jati diri. "Terkadang tiap perilaku orang tua bisa  mengubah cara berfikir anak, baik atau tidaknya tergantung peran tiap orang tua sendiri," ujarnya.

Menjadi ex punk yang merasakan berbagai kehidupan jalanan, membuat A menghimbau kepada beberapa orang agar tidak menjadi sepertinya. "Setiap orang punya cara dan pilihannya sendiri Life is choice, hidup itu adalah pilihan. Terserah orang mau punya gaya hidup model seperti apa. Yang penting engga merugikan pihak sekitar," terangnya.

Terakhir A menjelaskan bahwa ada titik jenuh yang membuat dirinya lepas dari komunitas tersebut. "Semakin kesini semakin tak fikir, nggak  selamanya bahwa kehidupan itu terus dijalanan. Saya merasa harus berubah, butuh kerja,  pengen punya kehidupan normal, " simpulnya.









Lailatul Dwi Nur Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla 19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur Syarafina 19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti 19041184073


Orang Tua manapun tidak menginginkan anaknya salah dalam hal pergaulan.
Makin hari, anak yang berjalan di jalanan makin marak. Tidak jarang mereka berasal dari keluarga mapan, kecukupan materi dan kasih sayang.  Persoalan yang menjadi latar balakang dan motivasi mereka untuk berjalan beragam, tidak mudah untuk mengatakan kemiskinan, kurang kasih sayang, keluarga broken, atau apapun itu. Jiwa remaja yang sedang mencari jati diri ikut memicu perilaku ini. Kebebasan sebebas-bebasnya menjadi pedoman, bebas dari kewajiban misalnya sekolah, belajar agama atau mengaji, membantu orang tua, main sepuasnya, menjadi pandangan yang menggiurkan remaja labil ini. Labil dalam arti yang sesungguhnya.
Persoalan adalah stigma negatif yang akan mengikuti komunitas ini. Bagaimana tidak ketika mereka dengan pakaian yang terbatas, kebersihan badan minimal, berjalan kian kemari dan tidur di sembarang tempat. Kecurigaan tidak akan bisa disalahkan kalau demi menunjang kehidupannya mereka melakukan aksi kekerasan dalam mengamen, kalau tidak tindak kriminal lainnya. Berbahaya sekali kalau mereka sudah direkrut atau dikuasai oleh jaringan pengedar narkoba. Pergaulan bebas, karena usia puber ada anak laki-laki dan perempuan sepanjang hari tanpa pengawasan, sangat mungkin terjadi, dengan gonta ganti pasangan. Ngelem, merokok, tatoo, bukan masalah tatoonya, namun kesehatan alat untuk membuat karya itu sangat riskan, saya tidak menyorot tatoo dari agama, namun kesehatan mereka yang sangat berbahaya. Paparan angin malam, hujan, panas secara langsung, pola makan dan hidup yang tidak beraturan.
Di Indonesia sendiri banyak komunitas yang memiliki ciri khas jalanannya. Contohnya komunitas punk, tak sedikit anak muda yang bergabung di komunitas tersebut. Dengan berpenampilan urakan seperti rambut mohawk, jarang mandi, badan penuh tato, telinga bolong dan hidup di jalanan, menjadikan anak punk banyak dijauhi, bahkan keluarganya sendiri banyak yang tidak menerima kembali. Namun, sebenarnya kehidupan anak punk di jalanan masih bisa diselamatkan, supaya bisa hidup tertib dan punya masa depan yang lebih baik. “Kebanyakan orang malah menjauhi mereka, karena sudah dianggap sampah. Bahkan, orang tua atau keluarganya malah mengusirnya.” tutur Joko saat di wawancarai tentang anak punk.
 Peran orang tua sangat penting dalam hal pendidikan karakter untuk anaknya. Menurut Susi dengan adanya komunitas anak punk dalam sudut pandang sebagai orang tua, dia tidak ingin jika anaknya terjun di dunia seperti itu. “Semua karakter anak di bentuk dari orang tua jadi baik buruknya anak itu tergantung pendidikan dari orang tuanya, dan faktor lainnya adalah lingkungan dan pertemanan.” Tanggapan Susi sebagai orang tua mengenai anak punk.
Masalah-masalah yang terjadi di zona  keluarga bisa jadi faktor dimana anak tersebut akan berfikiran yang tidak rasional dan menimbulkan karakter mereka akan semakin memburuk. Dampaknya adalah psikologi mereka akan terganggu dan bisa jadi mereka akan keluar dari zona keluarganya untuk menenangkan dirinya.  Disisi lain banyak anak punk di jalanan yang mempunyai nasib serupa, sehingga mereka lebih nyaman di jalanan walaupun hidup terlunta-lunta.
Seperti Ghoni yang menjadi orang tua sekaligus kepala keluarga, ia mendidik anaknya mulai dari usia  dini. Dia tidak ingin anaknya terjun ke dunia pergaulan yang salah.  Untuk itu Agus menerapkan budaya di rumahnya seperti  Bersikap lembut dan tunjukkan kasih sayang yang tulus, jadilah pendengar yang baik dan berikan dukungan, Berikan rasa nyaman, Ajarkan rasa tanggung jawab. Ajarkan untuk meminta maaf dan jangan di takut-takuti.  “Saya pribadi ingin anak saya menjadi anak yang berguna bagi agama nusa dan bangsa.” Ujar Ghoni.












Lailatul Dwi Nur Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla 19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur Syarafina 19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti 19041184073

Sikap dan Antisipasi Orangtua Agar Tidak Salah Pergaulan

- Copyright © BERITA KITA KITA - ILMU KOMUNIKASI 2019 - Powered by Universitas Negeri Surabaya - Designed by Iqbal Nafis Musyaffa -