- Home >
- Sikap dan Antisipasi Orangtua Agar Tidak Salah Pergaulan
Posted by : Wahyu Nur Syarafina
Minggu, 24 November 2019
Orang Tua manapun tidak menginginkan anaknya salah dalam
hal pergaulan.
Makin hari, anak yang berjalan di jalanan makin marak.
Tidak jarang mereka berasal dari keluarga mapan, kecukupan materi dan kasih
sayang. Persoalan yang menjadi latar balakang dan motivasi mereka untuk
berjalan beragam, tidak mudah untuk mengatakan kemiskinan, kurang kasih sayang,
keluarga broken, atau apapun itu. Jiwa remaja yang sedang mencari jati diri ikut
memicu perilaku ini. Kebebasan sebebas-bebasnya menjadi pedoman, bebas dari
kewajiban misalnya sekolah, belajar agama atau mengaji, membantu orang tua,
main sepuasnya, menjadi pandangan yang menggiurkan remaja labil ini. Labil
dalam arti yang sesungguhnya.
Persoalan adalah stigma negatif yang akan mengikuti
komunitas ini. Bagaimana tidak ketika mereka dengan pakaian yang terbatas,
kebersihan badan minimal, berjalan kian kemari dan tidur di sembarang tempat.
Kecurigaan tidak akan bisa disalahkan kalau demi menunjang kehidupannya mereka
melakukan aksi kekerasan dalam mengamen, kalau tidak tindak kriminal lainnya.
Berbahaya sekali kalau mereka sudah direkrut atau dikuasai oleh jaringan
pengedar narkoba. Pergaulan bebas, karena usia puber ada anak laki-laki dan
perempuan sepanjang hari tanpa pengawasan, sangat mungkin terjadi, dengan gonta
ganti pasangan. Ngelem, merokok, tatoo, bukan masalah
tatoonya, namun kesehatan alat untuk membuat karya itu sangat riskan, saya
tidak menyorot tatoo dari agama, namun kesehatan mereka yang sangat berbahaya.
Paparan angin malam, hujan, panas secara langsung, pola makan dan hidup yang
tidak beraturan.
Di Indonesia sendiri banyak komunitas yang memiliki ciri
khas jalanannya. Contohnya komunitas punk, tak sedikit anak muda yang bergabung
di komunitas tersebut. Dengan berpenampilan urakan seperti rambut mohawk, jarang
mandi, badan penuh tato, telinga bolong dan hidup di jalanan, menjadikan anak
punk banyak dijauhi, bahkan keluarganya sendiri banyak yang tidak menerima
kembali. Namun, sebenarnya kehidupan anak punk di jalanan masih bisa
diselamatkan, supaya bisa hidup tertib dan punya masa depan yang lebih baik. “Kebanyakan
orang malah menjauhi mereka, karena sudah dianggap sampah. Bahkan, orang tua
atau keluarganya malah mengusirnya.” tutur Joko saat di wawancarai tentang anak
punk.
Peran orang tua sangat penting dalam hal
pendidikan karakter untuk anaknya. Menurut Susi dengan adanya komunitas anak
punk dalam sudut pandang sebagai orang tua, dia tidak ingin jika anaknya terjun
di dunia seperti itu. “Semua karakter anak di bentuk dari orang tua jadi baik
buruknya anak itu tergantung pendidikan dari orang tuanya, dan faktor lainnya
adalah lingkungan dan pertemanan.” Tanggapan Susi sebagai orang tua mengenai
anak punk.
Masalah-masalah
yang terjadi di zona keluarga bisa jadi
faktor dimana anak tersebut akan berfikiran yang tidak rasional dan menimbulkan
karakter mereka akan semakin memburuk. Dampaknya adalah psikologi mereka akan
terganggu dan bisa jadi mereka akan keluar dari zona keluarganya untuk
menenangkan dirinya. Disisi lain banyak
anak punk di jalanan yang mempunyai nasib serupa, sehingga mereka lebih nyaman
di jalanan walaupun hidup terlunta-lunta.
Seperti
Ghoni yang menjadi orang tua sekaligus kepala keluarga, ia mendidik anaknya
mulai dari usia dini. Dia tidak ingin
anaknya terjun ke dunia pergaulan yang salah.
Untuk itu Agus menerapkan budaya di rumahnya seperti Bersikap
lembut dan tunjukkan kasih sayang yang tulus, jadilah pendengar yang baik dan
berikan dukungan, Berikan rasa nyaman, Ajarkan rasa tanggung jawab. Ajarkan
untuk meminta maaf dan jangan di takut-takuti. “Saya pribadi
ingin anak saya menjadi anak yang berguna bagi agama nusa dan bangsa.” Ujar Ghoni.
Lailatul Dwi Nur
Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla
19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani
19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa
19041184041
Wahyu Nur Syarafina
19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti
19041184073