Popular Post

Popular Posts

Posted by : Wahyu Nur Syarafina Senin, 25 November 2019



Komunitas anak punk dari dulu hingga sekarang masih mendapatkan pandangan yang negatif di masyarakat mulai dari cara mereka berpenampilan, rambut mowhack, pakaian hitam, pemalas yang sukanya hura-hura, tato dan perilaku mereka yang sering berkeliaran di pinggir jalan juga cenderung melakukan perilaku yang menyimpang dari norma-norma yang ada sehingga menimbulkan stigma-stigma negatif yang melekat dalam diri anak punk di masyarakat.

Stigma-stigma negatif tersebut masih melekat di komunitas anak punk dan terkadang membuat kekhawatiran di mata masyarakat pada umumnya seperti yang dialami Anik (40) yang mengaku trauma dengan komunitas anak punk. “Dulu waktu saya masih kerja, sewaktu pulang kerja malam-malam lagi jalan nyari bemo ada anak-anak punk lagi mabuk terus tiba-tiba digodain sambil ada satu anak yang narik kalung saya. Tapi, alhamdulillah saya berhasil lari kabur dari mereka. Sejak itu sih saya jadi takut kalau ketemu anak-anak punk kek gitu bener-bener sampai sekarang masih trauma.” Ceritanya.

Tidak hanya di kalangan masyarakat, para orangtua pun mengaku khawatir terhadap anaknya dengan adanya komunitas anak-anak punk terutama mereka yang memiliki anak perempuan. “Karena trauma tadi, terus anak saya perempuan semua waduh malah bener-bener takut sih apalagi kalau anak saya pulang malam udah pasti khawatir gak tenang takut nanti ketemu anak-anak kek gitu dijahatin atau nanti digoda-godain.” Imbuh Anik (40).

Penampilan yang menimbulkan kesan seram cenderung membuat banyak orang takut untuk bertemu mereka. Terutama anak-anak perempuan yang terkadang juga menjadi korban cat calling para anak-anak punk. “Di rumahku itu deket sama tempat kumpulnya anak-anak punk gitu dan aku pernah digoda-goda gitu dipanggil-panggil sambil ketawa-ketawa atau gak disiul-siul jadinya kalau lewat situ aku mesti risih jadi gak pernah lewat situ lagi. Akhirnya kalau mau keluar rumah beli-beli apa selalu muter jalan lain biar gak ketemu sama mereka.” Cerita Mita (14)

Namun tidak semua orang merasa terganggu atau takut dengan keberadaan anak-anak komunitas punk. Semua tergantung bagaimana kita memandangnya. “Aku biasa aja sih gak terlalu terganggu atau yang gimana-gimana sama anak punk, karena aku juga punya temen yang ikut komunitas anak punk gitu dan aku pernah ikut kumpul temenku yang anak punk itu tapi mereka juga gak pernah ngelakuin kegiatan-kegiatan yang negatif yang mungkin dipikirkan orang-orang atau ganggu sih. Mereka bener-bener sekedar kumpul-kumpul aja.” Ujar Nadin (16)

Dan masih banyak juga anak-anak komunitas punk yang masih berperilaku baik melawan stigma-stigma negatif yang ada di masyarakat. “Malah kemaren pas puasa temenku sama komunitas anak punk-nya itu bagi-bagi takjil di jalan sama ngadain buka puasa bersama anak-anak panti asuhan.” Tambah Nadin (16)











Lailatul Dwi Nur Apriliana 19041184003
Stella Salsabilla 19041184008
Muhammad Fawwaz Wildani 19041184010
Iqbal Nafis Musyaffa 19041184041
Wahyu Nur Syarafina 19041184060
Marsa Faiza Hardiyanti 19041184073


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © BERITA KITA KITA - ILMU KOMUNIKASI 2019 - Powered by Universitas Negeri Surabaya - Designed by Iqbal Nafis Musyaffa -