Popular Post

Popular Posts

Posted by : Nur Fadhilah Rachmawati Minggu, 01 September 2019


SURABAYA(01/09)—Sempat menggemparkan pecinta film tanah air melalui trailernya yang dirilis pada 20 Juli 2019, GUNDALA akhirnya mampu menarik perhatian penonton setia bioskop tanah air setelah dirilis pada Kamis, 29 Agustus 2019. Tayangan ini mampu menarik perhatian dari semua kalangan, mulai dari anak usia sekolah dasar, remaja dan dewasa. Film yang disutradarai oleh Joko Anwar tersebut mampu menembus angka 170 ribu penonton dihari pertama penayangannya.
Setelah ditemui secara langsung di PTC XXI Surabaya pada hari Minggu(01/09), Nanda sebagai penonton film bertema kepahlawanan itu berani mengungkapkan pendapatnya tepat setelah keluar dari Studio 2.

Gundala Official Poster (2019)


Nanda mengungkapkan bahwa ia tak menyangka jika Indonesia mampu membuat film dengan level ini. “Awal nonton, ngerasa kaget dan kagum kalo kita udah bisa bikin film seperti ini. Dari segi visual, film ini benar-benar manjain mata. Kelihatan banget kalau film ini dibuatnya gak main-main. 90% film ini ngambil lokasi seperti di pasar, tempat kumuh, dan lorong-lorong sempit tapi hebatnya tetep bisa bikin saya ngomong ‘wah’ terus. CGI yang disajikan juga pas banget porsinya. Salut sama Joko Anwar yang punya mindset film superhero gak perlu gembar-gembor CGI,” ungkapnya mengenai segi visual Gundala.
Dari segi cerita dan action, Nanda mengungkapkan bahwa ia menemukan sedikit kekurangan. “Dari segi action, gak perlu diragukan. Mas Abimana udah pasti totalitas banget saat jadi Sancaka. Meskipun ada sedikit kekurangan di beberapa titik perkelahian, tapi semuanya bisa disamarkan dengan mulus. Audionya juga gak main-main, gak murahan. Klop banget beriringan dengan jalannya scene demi scene. Untuk ceritanya keren ya, ceritanya emang lebih grounded. Hidupnya Sancaka terasa sangat relateable sama kehidupan kita. Pesan-pesan yang ada dalam film juga tersampaikan dengan baik. Film ini kayaknya emang dijadiin format sebagai builder untuk film-film Bumi Langit kedepannya. Banyak benih-benih cerita yang harusnya bisa dimasukkan di film selanjutnya, tidak harus semua dimasukkan dalam satu film. Isu politik yang dibawa juga agak berlebihan, hal ini yang bikin cerita Sancaka jadi terkesan terburu-buru, apalagi di bagian ending yang kayaknya perlu durasi tambahan agar eksekusinya bisa lebih matang,” ujarnya.
Sebagai penutup, Nanda mengungkapkan jika Gundala ini merupakan film yang wajib untuk disaksikan. “Aku bela-belain nonton karena film ini potensial banget. Di samping film Indonesia yang didominasi oleh genre horror, romance dan comedy, Gundala ini berani unjuk gigi dengan genre superhero dengan sentuhan lokal yang masih jarang dilirik masyarakat. Sebagai penggemar Marvel, aku dukung pol film ini. Akhirnya kita punya superhero dengan kearifan lokal yang bisa ditunjukin di mata dunia. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi,” jelasnya dalam mengungkapkan dukungannya.

Written by :
Nur Fadhilah Rachmawati/19041184031


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © BERITA KITA KITA - ILMU KOMUNIKASI 2019 - Powered by Universitas Negeri Surabaya - Designed by Iqbal Nafis Musyaffa -